We Need to Fix Our Democracy and Free Market System

One of my favorite economics professors is Jefferey Sach from Columbia University. I’m fully supporting his notion that dismantling the government capability, by cutting the taxes revenue, could create many problems, such as the diminishing of social mobility in the US (low quality of public education, low investment in infrastructure, no attention to environmental problem, etc.). His other notions about corrupt free market system, where the capitalist just gambled the system, is something which I also believe.

Below is one of his lectures in LSE. Actually I also presented in  LSE several days after he spoke, and guess what, coincidentally, we were suggesting the same solution =). Enjoy the lecture below.

Being in a Competition

Life is a a competition. I’ve heard many people complained about this statement. They argue that perceiving life as a competition would make life feel un-enjoyable and full with seriousness. Let me elaborate why I think life need to be a competition and will always be.

Firstly, whether we realizing it or not, competition will make us better. Being in a competition, someone will always try to improve his/her performance which in the end, whether (s)he win or not, will improve his overall capability. One of my professor explained why many overseas chinese and indians are more successful than their family in their home country. His answer is because these chinese and indians areexposed to a competitive world, either in US, europe, or anywhere else.

Secondly, Allah almighty, already mentioned in the qur’an that this life is a competition. Allah want to know who the best one among us. Allah said, “[He] who created death and life to test you [as to] which of you is best in deed – and He is the Exalted in Might, the Forgiving” (QS 67:2). Allah also suggested us to compete in doing good deeds. Allah said, “……, So race to [all that is] good. Wherever you may be, Allah will bring you forth [for judgement] all together. Indeed, Allah is over all things competent” (QS 2:148).

I do agree that our life need not to be a stressful life; however, I’m even more disagree if we think that this life is just to be enjoyed, whether not to pray to the God at all or doing the good thing in a slow pace. Having in mind that this is a competition, competition between us and ourselves and a competition between us and the time. In the end, we will never know when Allah will recall us to meet Him. Obviously, none of us want to be a regretful person when we meet Allah later. I do pray to Allah that me and everyone who read this writing will meet Allah with a satisfied heart, with a full of smile face.

Lastly, in term of applicability, when I was a junior high school student, I think a round 10 years ago, even though I was studying in a countryside area, I always think that I have to improve my knowledge, because I want to be on the same level of competency with the students in Java (because java is the most developed region in Indonesia). When I was studying at the university, even  though I was studying in the best university in Indonesia, I stress my mind that I have to be as smart and competent as the harvard student. believe me, all of this mind suggestion work.

Bearing in mind that we are competing in this life, will, insyaallah, make us want to do more and to improve more. So, ready to be in the race? Good luck!

How to be Able to Speak in English

Judul di atas merupakan salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima. Sebenarnya saya juga tidak terlalu mengerti mengapa orang-orang bertanya seperti itu pada saya karena saya merasa kemampuan bahasa inggrisnya masih harus terus ditingkatkan. In this short writing, I’ll be mainly talking about two things. Pertama, background kemampuan bahwa inggris saya; dan kedua, upaya-upaya yang saya lakukan.

The first one is my background/experience. Just to set the context, sebagaimana yang saya sebutkan pada tulisan sebelumnya, saat saya masuk UI tahun 2007, kemampuan berbahasa inggris saya sangat lah rendah. Jangankan mengirim email, searching di google saja saya tidak bisa saat itu. Berhubung di FE UI mahasiswa diwajibkan untuk mengambil mata kuliah berbahasa inggris sekitar 6-7 mata kuliah, di semester kedua, ketika ada mata kuliah yang harus diambil dalam bahasa inggris, saya jujur, ingin menangis saat mengikuti kuliah tersebut. Mata kuliahnya bernama quantitative method in business. Mungkin ada sebagian orang yang sulit untuk berbicara dalam bahasa inggris, namun masih mengerti apa yang dikatakan lawan bicara, nah saya, bahkan apa yang dikatakan lawan bicara pun tidak menegerti.

Terkait dengan perlukah kita ikut di les bahasa inggris atau tidak, I would say, as long as we have passion to learn it, we don’t need to. Dulu saat di semester dua, saya sempat berpikir bahwa sebaiknya saya mengikuti les bahasa inggris. Sayapun mengecek beberapa tempat kursus bahasa inggris. Ternyata setelah saya survey, pada umumnya biaya kursus bahasa inggris adalah sekitar 800-900ribu per level. Satu level sekitar 2,5 bulan. Pada saat itu, budget bulanan saya hanya 800ribu (450ribu nya merupakan makan @15.000 x 30 hari). Saat itu saya menghitung-hitung, jika saya berpuasa nabi daud (sehari puasa sehari tidak), maka saya akan bisa menghemat 10ribu setiap dua hari, karena tidak ada sahur dan makan siang. Setelah saya hitung, bahkan jika saya puasa nabi daud selama 3 bulan berturut-turut pun, saya hanya bisa save money 450rb, sangat kurang jika dibandingkan dangan biaya les satu level bahasa inggris. Then what I did? here they are in the next paragraph.

Berikut adalah beberapa hal yang dulu, bahkan, sampai sekarang masih saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya.

  1. Perbanyak latihan listening dan speaking. Sering” dengar radio dalam bahasa inggris atau nonton berita dalam bahasa inggris. dari dulu, bahkan sampai sekarang, saya sering dengar radio australia atau nonton al jazeera di internet. Here is the link: http://www.radioaustralia.net.au/international/podcast/feed/asiapacific (Download mp3 nya) dan http://www.aljazeera.com/.
  2. Perbanyak baca buku dalam bahsa inggris (usahakan pakai buku teks berbahsa inggris). Jika ada kosa kata yang tidak diketahui, lihat di kamus, lalu catat dan hapalkan (saya sarankan menggukan kamus oxford).
  3. Untuk membantu kelenturan mulut. baca text bahasa inggris keras2 beberapa menit tiap hari.
  4. Kalau ada kelas yang dibuka dalam bahasa inggris, sebaiknya ambil kelas itu saja.
  5. Latih percakapan dengan teman yang juga aspired to learn English.

Last but the most important thing, perbanyak do’a pada Allah supaya dimudahkan bisa berbahasa asing. Insyaallah bisa. I believe to learn any language we don’t need to enroll in any special course. As long as we have passion and commitment to learn it. We will be able to. Yakinlah, sangat banyak manfaat yang bisa kita dapatkan jika kita mampu berbahasa asing. Good luck, semoga bermanfaat.

Becoming a Mapres

Berhubung cukup banyaknya mahasiswa, bahkan siswa, yang meminta saya untuk berbagi tentang bagaimana menjadi seorang mapres (mahasiswa berprestasi), I’ll try to share my experience. Pada tulisan singakat ini, saya akan membagi penjelasan saya pada empat hal. Pertama, terkait nature dari mapres itu sendiri; kedua, pengalaman saya mengikuti mapres; ketiga, tips-tips menjadi mapres; dan keempat, refleksi saya atas segala proses ini.

Pertama, nature dari mapres atau mahasiswa berprestasi. Banyak mahasiswa yang berkeinginan menjadi seorang mapres, baik karena prestige yang ada pada gelar tersebut, atau mungkin karena financial reward dari kompetisi tersebut. Ketika saya merupakan mahasiswa baru di UI pun (tahun 2007), saya pun tercetus ingin menjadi seorang mapres, melihat ‘kerennya’ kakak-kakak mapres yang diminta hadir dan diberi penghargaan saat wisuda berlangsung (saat itu saya salah satu anggota paduan suara universitas). However, seiring dengan munculnya berbagai macam aktivitas, keinginan itu pun semakin pudar, tepatnya terlupakan. I just enjoy my life as a student back then.

Kedua, terkait pengalaman saya terkait mapres. Menurut saya, kurang tepat rasanya jika mapres dijadikan sebagai tujuan, rather, for me it’s just a recognition for everything that we’ve done. Menurut saya yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan berbagai potensi yang ada di kampus ini, mengembangkan potensi diri kita, dan berkontribusi bagi orang lain. Terkait dengan mengembangkan potensi diri, saya ingin sedikit elaborasi. Ketika saya diterima di Universitas Indonesia tahun 2007, saat itu saya hanyalah seorang siswa yang buta internet (even tidak mengerti bagaimana cara menggunakan email, seacrh di google, etc). Saat itu saya juga sangat-sangat tidak bisa berbahasa inggris. Baru dua kali naik pesawatm tidak pernah keluar negeri, dll. Lalu saya merasa bahwa Allah memberi bimbingan pada saya. Tanpa ada niat pragmatis ingin menjadi mapres dll, saya hanya berusaha bagaimana saya bisa bermanfaat besar bagi orang-orang di sekitar saya. Mulailah segala proses itu berjalan. Baru sekitar satu bulan di UI, saya diminta menjadi ketua SALMAN (Salam Muda Mandiri), semacam rohis angkatan UI dibawah naungan Salam UI. Saya pun juga ikut bantu-bantu di sahabat asrama UI, menjadi ketua kelas di 5 dari 6 kelas di semester 1, dll. Pada semester 2 pun, saya diamanahi menjadi ketua sahabat asrama. Proses itu pun bergulir dengan sendirinya, tanpa pernah saya rencanakan secara ambisius. Niat saya pada waktu itu hanya bagaimana saya bisa bermanfaat besar bagi orang di sekitar saya, saya menjadi semakin dekat dengan Allah, dan kapasitas diri saya berkembang.

Lalu apa manfaat menjadi seorang mapres? Selain financial reward yang kita dapatkan, total dari tingkat fakultas sampai nasional saya mendapat sekitar 22 juta, kita akan mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk berbagi manfaat bagi orang lain. Setelah saya terpilih  menjadi mapres tingkat fakultas, universitas, dll, banyak teman-teman yang meminta saya untuk sharing-sharing dengan mereka terkait tips-tips belajar, bagaimana membuat karya tulis yang baik, bagaimana menyeimbangakan akademis dengan organisasi, dengan ibadah, dll. Saya merasa bahwa kesempatan bertemu dan berbagi dengan semua orang inilah yang merupakan reward terbesar bagi diri saya. Kesempatan untuk didengarkan dan memberi suggestion pada orang lain, merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Setelah terpilih menjadi mapres ini, mungkin sudah lebih dari 30 forum yang saya hadiri untuk berbagi, baik bagi siswa SMA, teman-teman mahasiswa, para guru-guru, dll.

Thirdly, terkait tips-tips menjadi mapres. Berhubung sangat ketatnya kompetisi mapres ini, maka saya berpesan bagi siapun yang ingin  mengikuti kompetisis ini, it’s not a one night competition. Ini bukanlah kompetisi yang kita bisa mempersiapkannya dalam satu malam. Ini merupakan sebuah proses, yang berjalan selama tiga atau empat tahun. Hal yang akan dilihat pada kompetisi ini adalah apa yang telah kita lakukan selama tiga atau empat tahun terakhir dan bagaimana diri kita berkembang setelah tiga atau empat tahun tersebut. Walaupun sebelumnya saya mengatakan bahwa saat tahun satu kuliah saya tidak pernah begitu ambisius menargetkan bahwa saya harus menjadi mapres, namun saya selalu berusaha memaksimalkan waktu yang saya miliki saat kuliah tersebut. Sehingga pada akhirnya memang terpilih sebagai seorang mapres. Beberapa tips penting menurut saya adalah perbanyak mengikuti organisasi mahasiswa, perbanyak mengikuti lomba-lomba dan konferensi, baik tingkat nasional maupun internasional. Jika kita melihat format CV mapres ini, mungkin kita akan sedikit terkejut terkait detail dan komprehensifnya form CV yang harus diisi. Ini adalah form CV yang harus diisi: Template CV Mapres (bisa dilihat betapa komprehensifnya). Terkait technical aspect, usahakan karya tulis yang disubmit merupakan karya tulis yang membahas suatu masalah secara komprehensif dan memberikan solusi yang komprehensif pula. Terkait CV, jangan lupa untuk melampirkan bukti-bukti pendukung, seperti sertifikat dan surat keterangan.

Lastly, terkait refleksi saya atas proses ini. Setelah saya melihat atas apa yang telah terjadi dalam empat tahun terakhir di hidup saya, saya hanya bisa berkata, la haula wala quwwata illa billahi ‘alaiyyul ‘adzim. Sungguh, tiada daya dan upaya melainkan karena pertolongan dari Allah SWT. Saya benar-benar merasakan betapa Allah SWT yelah membimbing dan menguatkan saya menjadi semua proses ini. Sesuatu yang sebelumnya terlihat tidak mungkin menjadi mungkin. Selain itu, satu notion yang membuat saya semangat menjalani proses mapres ini dan dalam hal apa pun adalah notion bahwa sebagai seorang muslim, kita harus menjadi yang terbaik. Allah telah mengatakan bahwa kita adlaah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, selama kita terus beramar ma’ruf nahi munkar dan beriman pada Allah SWT. Finally, I would like to endorse you all to maximize the time and the health that we have so that we can maximize our benefit to the society. mari kita selalu berdo’a pada Allah, agar Allah selalu memberi kita hidayah serta selalu menguatkan kita. Have a great life ahead! Rully.

Du’a and Desperation

One concept of God in Islam that I really like is the concept that Allah is very close to us, He knows what it is inside our heart, and His promise that if we pray to Him, then He will grant it.

As a human being who sometime just being alone and in the middle of a lot of duniawi problem, the understanding that there is Allah who knows what we are thinking is just very relieving. Allah gave many direction on how we should deal with challenges in this life. He stressed that there is no thing impossible if He want it. He also stressed that if we want to change our condition, then we have to work for it. And lastly, the concept of never give up. Allah really stressed that we may not become despair in anything in this life, there must be always solution, there must be always a way out.

In a practical way, one nasihat (advice) which I never forget from an Imam when I was studying in US is that, he said, whenever you are in a problem or feeling so desperate, just do tahajjud in the middle of the night and read surah Yasin three times and then pray, insyaallah Allah will make the problem easy for you.

Lastly, about the concept of Du’a or praying in Islam. Prophet Muhammad said that there are three possibilities after we pray to Allah. First, Allah grant it directly; Second, Allah grant it later; or Third, Allah give us pahala or reward because of it and erase our sin. Well, as an accountant, I don’t see any bad outcome from it, so why don’t we pray?

Hope we are always istiqomah (stand firmly) in this Islam way. Hope we can see and meet Allah later in His paradise.