Recommended book: Khalifah Rasulullah

Currently I am re-reading a book, entitled Khalifah Rasulullah, which I read around nine years ago when I was in senior high school. Truly, this book has shaped my characteristic since then. The book is about the leadership as well as the life of four khalifah rasyidin plus the “fifth khalifah” Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Melalui buku ini, kita bisa belajar betapa kuatnya keimanan pada khalifah Rasulullah. Kita juga bisa belajar betapa mereka adalah pemimpin yang takut, malu, dan ta’at pada Allah yang terlihat dalam kezuhudan hidup dan keadilan mereka dalam memimpin.

I highly recommend all of us to read this book. Insyaallah, sangat banyak kebaikan dan pelajaran yang ada di dalamnya. Semoga Allah merahmati penulis buku ini. Here’s the detail of the book:

Judul: Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah

Penulis: Khalid Muh Khalid

Penerbit: Diponegoro, Cetakan X, 2006

IMG_5824

 

Morning thought

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt yang senantiasa memberi petunjuk dan cahaya; cahaya bagi hati dan pikiran sehingga kita bisa memaknai sesuatu melebihi apa yang tampak oleh mata. Below are some thought atau lebih tepatnya lintasan pikiran which arise.

  • On the essence of our presence in this earth. Kita, manusia, adalah wakil Allah di muka bumi. In this sense, kita berkewajiban mengelola dan memakmurkan bumi. In another dimension, sebagai wakil-Nya, kita harus senantiasa tunduk, patuh, dan berserah diri kepada-Nya; karena memang, kita hanyalah wakil, yang sejatinya tidak memiliki apa-apa. Sangat celakalah orang yang lupa diri, yaitu orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, seperti tidak menegakkan keadilan, corrupt, merusak lingkungan, dll; serta celaka jugalah orang yang menyombongkan diri atau ingkar pada Allah. Mereka boleh jadi a ‘good’ person, namun sikap tidak mempercayai Allah dan mengingkarinya merupakan penyimpangan atas peran seorang wakil. Mati kita menjadi seorang wakil (khalifah) sejati: orang yang memakmurkan bumi, namun juga taat pada Allah.
  • On social life. Jadilah orang yang mudah diterima; mudah beradaptasi; dan lovable. Ini adalah syarat bagi seorang da’i; but remember, selalu-lah berpegang pada petunjuk Allah dan sunnah Rasulullah karena dengannya kita akan tahu the red line. Hilangkanlah pre-judice. Jadilah the light of hidayah; just think, how Rasulullah saw would react and behave on something that we;re dealing with.
  • On worldly affairs. Jangan terjebak oleh rutinitas dunia yang semu. Jika kita mengejar dunia maka ia akan lari hingga kita akan terus-menerus mengejarnya. Kejarlah akhirat, kita akan mendapatkannya beserta dunia. Jadikanlah orientasi dan kalkulasi hidup kita berdasarkan pertimbangan akhirat. Dunia hanyalah sarana untuk menuju Allah. Jika apa yang kita lakukan saat ini tidak berguna untuk akhirat kita, maka tinggalkanlah ia atau perbaikilah ia.

Wallahu’alam.

First week at UCL

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa memberikan ni’mat dan petunjuk. This is my first week at UCL; and I can tell you that studying at world great institution is something that we should aim for. Dahulu, para khalifah di zaman bani Umayyah, Abbasiyah, Turki Usmani, most of them, get the very best education thus able to be someone ‘well-roundedly’ excellent.

I strongly encourage my fellow Indonesian to aim for this. Insyaallah in later time I’ll post writings on getting into great universities. Barokallahu ‘alaina.

UCL

UCL Campus in summer, London

Politics and education

High cost politics has caused high cost economy; this is understandable. But the fact high cost politics also lowered the input for growth, namely educated-skilled labor, is something that is often missing in discussion.

The Educating the World episode of Al-Jazeera below showed how a corrupt government and business community has prevented access to education in Afghanistan and other countries. The lack of political will is also reflected in less than one percent education spending over GDP in these countries. It is true that security and cultural reason plays significant role in Afghan poor education level; but in many other countries, existence of security goes hand in hand with minimum focus on education. Most leaders know that education is important, but probably they don’t care.

I haven’t study politics thus don’t really know which political system which works. Is it the social democratic system in Nordic countries? I also still don’t know how a governmental system or political system should be in Islam; especially pertaining to this 21st century where we have seven billion people of which close to two billion are Muslim, thus very different from population that we had in Madinah back then. Or is it not a question on political system, as semi-autocratic country like Singapore and democratic country like the US can both be developed?

Or is it the question about improving the aqidah of the people, due to the fact that people with a good aqidah would stay away from corrupt behavior and other noble traits, thus we’ll have good people and good leaders? But isn’t it that will not happen as the devil will continuously disorient people from the straight path? Probably I shouldn’t be this pessimistic; but clearly, a role model on a modern-Islamic country is needed.

Need to learn more on this issue.

Status

Bacalah dan tadabburilah Al-Qur’an. Perbanyaklah waktu bersama Al-Qur’an; insyaallah hati akan menjadi tenang. Mu’min yang diberi ketenangan (sakinah) oleh Allah tidak akan takut dengan apa yang akan terjadi esok hari dan tidak akan sedih dengan apa yang telah terjadi.

Let the life flow. It’s meant to be enjoyable; only, and if only with Him.