It’s okay to make ‘wrong’ choice, as long as …

Hidup adalah pilihan. Setiap hembusan nafas adalah pilihan. Menulis tulisan ini adalah pilihan antara menulis atau melakukan kegiatan lain. Dalam hal yang lebih besar, mungkin bentuk pilihannya adalah apakah sebaiknya kuliah atau bekerja; jika kuliah apakah sebaiknya mengambil jurusan A atau B; jika ikut organisasi, apakah sebaiknya organisasi A atau B; serta pilihan-pilihan lainnya.

Tantangan dalam membuat pilihan tentu saja adalah kita tidak ingin membuat pilihan yang salah dan berujung penyesalan. Namun tentu, kita baru tahu akibat pilihan tersebut di kemudian hari.

Dalam membuat pilihan yang baik kita tentunya berusaha mengumpulkan informasi sebanyak mungkin sehingga kita dapat membayangkan hasil/akibatnya. Namun sering kali setelah berusaha menggali informasi, masih tetap saja ada ketidakpastiaan. Karena pilihan harus segera dibuat, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Bagi sebagian orang yang selalu berusaha melakukan sesuatu dengan baik dan terencana, mereka cenderung merasa khawatir/nerveous jika hal yang mereka lakukan berujung tidak baik dan berbuah penyesalan. Dalam konteks pilihan, mereka selalu khawatir bagaimana kalau seandainya pilihan yang saya buat itu salah?

Terkait hal ini, setelah mempelajari pilihan-pilihan dengan baik, saya berpendapat bahwa pilihan apapun yang dibuat hasilnya adalah baik atau tidak akan ‘salah’, selama syaratnya terpenuhi. Apa syaratnya? Syaratnya adalah saat melakukan pilihan, kita memurnikan niat bahwa kita membuat pilihan tersebut dengan maksud untuk memaksimalkan ibadah kita pada Allah atau memaksimalkan ridha Allah. Dengan kata lain, selama kita selalu meniatkan pilihan kita untuk memaksimalkan ridha Allah, maka ketika dihadapkan pada ketidakpastian, padahal sudah berusaha menggali informasi, pilih saja salah satu, apapun hasilnya adalah baik. Ini adalah makna memurnikan niat.

Saya sebelumnya tidak terlalu paham dengan hikmah dari perintah Rasulullah SAW untuk membaca basmallah sebelum melakukan pekerjaan apapun. Dalam Bahasa Indonesia, basmallah diartikan ‘dengan menyebut nama Allah’. Terjemahan ini terasa asing dan janggal, karena dalam Bahasa Indonesia, dalam percakapan sehari-hari kita tidak pernah menggunakan kata dengan menyebut nama A atau nama B dalam sebuah kalimat. Sekarang, saya berfikir, agar lebih tepat, seharusnya basmallah ini dipahami sebagai, ‘saya melakukan ini untuk mencari ridha Allah’. Contohnya ketika akan makan Apel, sebelum makan, kita berfikir bahwa saya memakan ini untuk mencari ridha Allah. Bagaiman bisa makan Apel  bisa mencari ridha Allah? Tentu bisa. Dengan makan Apel (yang lezat itu) kita bisa bersyukur akan ni’mat dari Allah. Dengan makan Apel kita mendapat vitamin/zat gizi lainnya sehingga bisa beribadah lebih baik lagi. Hal yang sederhana ini merupakan perubahan fundamental: dari sekedar makan menjadi makan untuk beribadah. Makan untuk tujuan yang besar; niat yang besar. Ini adalah perubahan mindset menjadi seseorang yang segala kegiatannya dimulai dengan alasan ‘melakukannya karena Allah atau untuk mencapai ridha Allah’.

Berangkat dari hikmah membaca basmallah sebelum melakukan segala sesuatu ini, kita menjadi sadar bahwa sebenarnya memurnikan niat ini tidak hanya terbatas pada mengambil pilihan saja, namun dalam melakukan segala sesuatu.

Sekarang tentu tantangannya adalah bagaimana agar otak kita selalu segar dan hati kita selalu khusyuk, sehingga sebelum melakukan sesuatu, kita selalu ingat untuk meniatkannya untuk mencari ridha Allah (yang dalam bentuk fisik kita ungkapkan dengan membaca basmallah). Ini adalah tantangan besar karena kita manusia zaman modern terbiasa untuk menjadi zombie, yaitu melakukan sesuatu tanpa disadari atau pikirannya sedang berada di tempat lain. Saat sholat misalnya, kita (atau saya khususnya) sering tiba-tiba tersadar, oh ternyata sudah mau salam saja. Tadi saat berdiri dan ruku’ pikiran melayang kemana-mana. Untuk mengatasi hal ini tentu kita perlu berusaha untuk khusyu’ di dalam dan di luar sholat. Berusaha khusyu’ sampai terbiasa. Khusyu’ akan menjadikan kita orang yang fokus. Orang yang fokus akan mencapai kesuksesan. Kita mendengar hadist bahwa saat hisab nanti, orang yang baik sholatnya, yaitu yang khusyu’ sholatnya, maka amal lainnya tidak dihisab karena sudah bisa dipastikan amalan lainnya adalah baik. Analoginya adalah orang yang sentiasa khusyu’ dalam sholatnya, maka ia akan menjadi orang yang fokus, sehingga hal-hal lain yang ia lakukan pasti kualitasnya juga baik (karena ia selalu fokus; selalu fokus bahwa saat melakukan sesuatu ia lakukan untuk mencari ridha Allah SWT).

Sekarang, jika sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan (termasuk membuat pilihan) selalu dimulai dengan fokus/kesadaran bahwa kita melakukannya karena ingin mencari ridha Allah SWT, maka sebenarnya tidak ada yang namanya pilihan yang salah/patut disesalkan. Di kemudian hari mungkin kita menganggap suatu pilihan itu salah; namun sebenarnya, jika sejak dari awal kita sudah berpasrah pada Allah, maka sebenarnya hasil yang kita anggap salah itu adalah sesuatu yang baik menurut Allah. Pasti ada hikmah/kebaikan dari akibat pilihan tersebut yang kita belum ketahui.

Terakhir, setelah panjang lebar membahas membuat pilihan, sebenarnya Rasulullah SAW sudah mengajaarkan bahwa saat membuat pilihan kita harus melakukan sholat istikharah. Jika sholat istikharah dilakukan dengan benar, maka tidak akan ada penyesalan. Kata Rasulullah SAW: “Takkan menyesal orang yang istikharah. Takkan rugi dia yang bermusyawarah.” (HR Ath Thabrani). Do’a yang dicontohkan saat beristikharah pun menunjukkan dengan jelas bahwa kita harus memurnikan niat dan berpasrah/tawakkal pada Allah saat akan membuat pilihan. Do’a yang dicontohkan Rasul tersebut:

“Wahai Allah, sesungguhnya aku mohon pilihan Mu dengan ilmu-Mu, dan mohon kepastian-Mu dengan kekuasaan-Mu, serta mohon kepada-Mu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, karena Engkaulah Dzat yang berkuasa, sedang aku tiada kuasa, dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui, sedang aku tiada mengetahui, dan Engkaulah Dzat yang mengetahui yang ghoib. Wahai Allah, jika urusan ini …….. adalah baik bagiku, untuk duniaku, akhiratku, penghidupanku, dan akibat urusanku untuk masa sekarang maupun besoknya, maka kuasakanlah bagiku dan permudahkanlah untukku, kemudian berkahilah dalam urusan itu bagiku. Namun jika urusan itu ……… menjadi buruk bagiku, untuk duniaku, akhiratku, penghidupanku, dan akibatnya persoalanku pada masa sekarang maupun besoknya, maka hindarkanlah aku dari padanya, lalu tetapkanlah bagiku kepada kebaikan, bagaimanapun adanya kemudian ridhoilah aku dengan kebaikan itu.”

Semoga kita sentiasa dekat dengan Allah SWT dan dibimbing dalam membuat keputusan. Wallahua’lam bisshawab.

The Library of Congress

Just visited the library of congress, world biggest library; and one of the oldest. This is a dream comes true. Library is one of my most favorite place, along with Masjid, park, and airport. As an avid reader, being in this huge library felt so amazing.

This slideshow requires JavaScript.

Briefly on the library. Its history can be tracked to year 1800, few years after the United States was established. This probably shows how US founding fathers respect knowledge. The gigantic beautiful building of the library was first open to the public in 1897, after nine years of construction. For more detail on the history, please to refer to this link.

The main reading room of the library is very beautiful. On the ceiling, there is a painting depicting world’s greatest civilization. To my surprises, the painter included Islam as one of the civilization. This is quite rare, as most western historian will usually skip Islam or bashing it when talking about civilization. For example, in the volume 51 of Harvard Classic book, when talking about Islamic civilization, the first sentence read, “Then came, in the seventh century, a new and even more terrible blast of devastation. Mohammed arose, created Islam, and started the great movement of Arab conquest”. Regardless of that, at least the architect of this building was not that biased. The list of civilizations included in the paintings are: Egypt; Judea; Greece; Rome; Islam; Middle Ages; Italy; Germany; Spain; England; France; and America.

The ceiling of main reading room, which includes Islam as one of the civilization

I would highly recommend friends visiting D.C. area to visit this library.