Life lesson

Delapan tafakkur Hatim a-Asham, seorang ulama ukhrawi, berikut insyaallah sangat bermanfaat bagi kehidupan kita.

Pertama, aku melihat ke sekeliling dan memperhatikan bahwa setiap orang mempunyai obyek cinta dan kekasih masing-masing dan ingin terus hidup bersama dengan yang dicintainya itu hingga ke liang lahat. Ketika masuk kuburan ia berpisah dengan yang dicintainya itu. Aku lalu merenungkan firman Allah berikut, “Kita semua milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali”. Karena itu, aku menjadikan amal baikku sebagai obyek cinta. Ketika meninggal, amal baikku akan menyertaiku masuk kubur.

Kedua, aku memperhatikan firman Allah, “Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (QS An-Nazi’at: 40). Aku sadar bahwa firman Allah Swt benar. Kemudian aku berjuang keras untuk menahan nafsuku dan aku merasa puas dengan taat kepada Allah.

Ketiga, aku memperhatikan manusia di sekitarku dan mendapati bahwa mereka menghargai apa saja yang dimilikinya. Lalu aku mengkaji ayat Allah berikut, “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal” (QS An-Nahl:96). Maka aku pesembahkan kepada Allah apa-apa yang jatuh ke tanganku.

Keempat, aku memperhatikan manusia di sekelilingku dan menyaksikan mereka menggantungkan diri pada harta, nama, kemahsyuran, kehormatan dan kemulyaannya dan mendapati semua itu tidak berarti apa-apa. Lalu aku merenungkan firman Allah berikut, “Sesungguhnya yang termulia di antara kamu pada sisi Allah adalah yang paling takwa” (QS Al-Hujurat:13). Maka aku meningkatkan takwaku kepada Allah dalam hidup ini hingga aku menjadi orang yang dimuliakan Allah.

Kelima, aku memandang manusia di sekitarku dan mendapati bahwa mereka saling menikam dan mengutuk karena rasa dengki dan benci. Kemudian aku memperhatikan ayat Allah berikut, “Kami telah membagi-bagikan penghidupan di antara mereka dalam kehidupan dunia ini” (QS Az-Zukhruf:32). Maka aku tinggalkan rasa dengki dan benci lalu aku menyadari bahwa rezeki berasal dari Allah dan aku agak menjauhkan diri dari manusia.

Keenam, aku memperhatikan manusia di sekitarku dan mendapati bahwa mereka saling berbuat durhaka antara satu dengan yang lain. Bahkan banyak di antara mereka saling membunuh. Lalu aku membaca ayat Allah berikut, “Sesungguhya setan itu musuh kamu, karena itu perlakukan dia sebagai musuh” (QS Fathir:6). Maka aku menjadikan setan sebagai musuh dan tidak lagi memusuhi manusia.

Ketujuh, aku menyaksikan manusia di sekelilingku dan mendapati mereka mencari penghidupannya masing-masing dan untuk itu mereka bersedia menghinakan diri dan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Kemudian aku mencermati firman Allah berikut, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di muka bumi melainkan Alah yang memberi rezekinya…” (QS Hud:6). Menyadari bahwa aku merupakan salah satu ‘binatang melata’ yang rezekinya tergantung pada Allah, aku lalu menunaikan apa-apa yang menjadi hak Allah dan menyadarkan penghidupanku kepada-Nya.

Kedelapan, aku memperhatikan manusia dan mendapati bahwa setiap orang bergantung pada makhluk, sebagian pada kekayaan, pekerjaan, perusahaan dan sebagian lainnya pada kesehatan fisiknya. Kemudian aku mencoba menghayati firman Allah berikut. “Dan barangsiapa tawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupan keperluannya” (QS Ath-Talaq:3). Maka aku bersandar dan bertawakal kepada Allah dan dia sudah cukup bagiku.

(Dikutip dari buku Ihya Ulumiddin, Bab 1 tentang Ilmu).